Rabu, 02 September 2009

First Dental Visit

Kunjungan Pertama Ke Dokter Gigi

first dental visitKapan Anda pertama kali memeriksakan kesehatan gigi dan mulut ke dokter gigi? Ketika di bangku TK? Sekolah dasar? Atau sama sekali belum pernah? Lalu, bagaimana pendapat para ahli mengenai usia yang tepat untuk melakukan kunjungan ke dokter gigi? Simak paparannya berikut ini.


The American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) dan American Dental Association (ADA) merekomendasikan bahwa seorang anak sebaiknya melakukan kunjungan pertamanya ke dokter gigi tidak lebih dari usia 12 bulan ataupun ketika gigi pertama anak sudah erupsi yaitu sekitar usia 6 bulan, walaupun mungkin tidak ada kelainan atau penyakit sama sekali di dalam rongga mulut anak.

Tujuan dari rekomendasi ini adalah untuk mendeteksi dan mengendalikan berbagai kondisi patologi yang ada dalam rongga mulut, terutama penyakit gigi yaitu karies atau lubang gigi. Selain itu, rekomendasi ini juga merupakan usaha pemberian pendidikan preventif (pencegahan) dan dasar perawatan gigi anak untuk mendapatkan kesehatan mulut yang optimal.

Kunjungan dini ini juga akan memperkenalkan anak dengan lingkungan dokter gigi sehingga akan membantu anak untuk beradaptasi, dan lebih mudah bekerja sama dengan perawatan gigi nantinya.


Ada beberapa hal yang dilakukan dokter gigi pada kunjungan pertama anak untuk melakukan pemeriksaan gigi:

1. Review riwayat penyakit anak.

2. Memberikan respon terhadap pertanyaan dari orang tua atau pengasuh anak.

3. Diskusi mengenai:
  • Cara merawat kesehatan rongga mulut anak.
  • Penggunaan fluoride yang tepat untuk anak.
  • Pengenalan bad oral habit, seperti menghisap jari.
  • Apa saja yang diharapkan terjadi di dalam rongga mulut anak selama anak mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan ke depannya.
  • Hubungan antara diet dengan kesehatan rongga mulut.

4. Demonstrasikan cara membersihkan rongga mulut anak dan beri kesempatan pada orang tua atau pengasuh untuk mempraktekannya.

5. Memberikan aplikasi topikal fluor apabila anak memiliki resiko tinggi mengalami karies.

6. Memberikan anjuran kapan kunjungan berikutnya.



Biasanya pemeriksaan gigi pada bayi dan balita tidak dilakukan di kursi gigi, first dental visitmelainkan dilakukan di atas pangkuan orang tua dan dokter gigi (lihat gambar). Bagi Anda yang memiliki anak yang sudah agak besar dan sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain, berikut ini adalah beberapa tips agar kunjungan ke dokter gigi berhasil:

1. Jangan ajak anak Anda ketika melakukan perawatan skeling untuk membersihkan karang gigi. Sebagian anak takut apabila melihat darah.

2. Jangan katakan perawatan gigi tidak sakit. Katakan saja kepada anak, bahwa gigi Anda terasa lebih enak dan nyaman setelah dilakukan perawatan.

3. Apabila anak Anda menanyakan Anda bagaimana cara gigi ditambal, katakan bahwa Anda tidak mengerti. Hanya dokter gigi Anda yang tahu caranya. Biasanya dokter gigi akan menceritakan proses penambalan gigi kepada anak dengan bahasa yang menarik sehingga anak tidak merasa takut.

4. Apabila Anda diizinkan menemani anak Anda untuk melakukan perawatan gigi, bersikaplah pasif. Biarkan dokter gigi Anda menciptakan hubungan yang baik dan memperoleh rasa percaya dari anak.

5. Jangan pernah jadikan kunjungan ke dokter gigi sebagai suatu hukuman atau suatu hal yang menakutkan. Misalnya apabila anak suka makan permen, jangan pernah takuti bahwa giginya akan disuntik oleh dokter gigi.

Kunjungan pertama ke dokter gigi dapat Anda lakukan di Balai Pengobatan Gigi di Puskesmas ataupun apabila Anda memiliki anggaran dana lebih dapat dilakukan di klinik dokter gigi spesialis kesehatan gigi anak (Sp. KGA).


terbitan Gigi sehat badan sehat 1 sept 2009

Selasa, 01 September 2009

Junc food

10 Rahasia yang Disimpan Produsen Junk Food
Health News Mon, 31 Aug 2009 10:00:00 WIB

Jakarta, Meskipun sudah banyak yang tahu bahwa junk food atau makanan sampah tidak baik untuk kesehatan, tapi masih banyak saja yang mengonsumsinya. Tidak heran, karena produsen makanan itu punya banyak cara untuk melancarkan bisnisnya. Apa saja?

Demi memasarkan produknya, banyak produsen junk food yang mengklaim produknya sebagai makanan bergizi dan sehat. Beberapa produsen pangan bahkan sudah memiliki produk yang populer dan pasar yang luas sehingga tidak mudah untuk dihentikan.

Dikutip dari US News, Jumat (28/8/2009), David Ludwig dan Marion Nestle, pakar nutrisi dari New York University sudah lama mengamati jejak para produsen junk food dan menemukan 10 rahasia yang disimpan para produsen tersebut yang tidak ingin diketahui konsumennya.

1. Produsen junk food menghabiskan triliunan uang untuk melakukan pemasaran produknya yang tidak sehat pada anak-anak.
2. Produsen yang menunjukkan studi-studi kesehatan yang mendukung produknya cenderung mengalihkan dan meminimalisir bahaya kesehatan produknya.
3. Produsen junk food tidak tanggung-tanggung membayar para pakar dan ahli nutrisi dengan dana besar untuk mendukung produknya.
4. Semakin banyak proses dan bervariasi jenis produk olahannya, semakin berkurang gizinya.
5. Produk yang banyak mengalami tahapan proses akan lebih membuat cepat lapar sehingga konsumen akan merasa kurang kenyang dan terpaksa membeli produk itu lagi.
6. Bahan-bahan yang tidak diperbolehkan digunakan dalam industri pangan masih tetap digunakan hanya dalam nama dan bentuk lain.
7. Klaim produk sehat pada label produk dapat dibuat dengan mudah dan tidak menjamin produk itu sehat.
8. Perbedaan klaim makanan bergizi oleh setiap produsen pangan sering membingungkan masyarakat.
9. Melalui jalur tertentu, produsen pangan memberikan dana khusus bagi organisasi, institusi atau grup anti kesehatan untuk tidak melakukan penentangan terhadap produknya.
10. Produsen pangan (junk food) selalu melakukan tindakan pembelaan diri yang agresif ketika ada kritik yang menyudutkannya.


Ada banyak cara yang dilakukan produsen-produsen junk food untuk menjual produknya, dan tanpa sepengetahuan Anda, makanan enak yang selama ini Anda makan hanya akan menjadi tumpukan sampah di dalam tubuh.

Hindari produk junk food yang banyak mengandung lemak dan kalori tinggi tapi rendah akan nutrisi. Berbagai proses pengolahan dalam industri mereka telah banyak menghilangkan nutrisi alami bahan pangan. Perbanyak konsumsi makanan-makanan dalam bentuk segar, direbus atau dikukus, dan rasakan perbedaannya di tubuh Anda.